 |
| Ilustrasi kejahatan siber. - Reuters/Kacper Pempel |
TechnoLoeGue — JAKARTA, Gelombang infeksi Ransomware kini tengah melanda organisasi
di berbagai lini industri. Kemunculan serangan ransoware pertama kali
dilaporkan oleh beberapa perusahaan di Eropa yang mengalami gagal akses
karena sistem Windows mission-critical mereka terkunci, disusul
munculnya tulisan peringatan untuk meminta tebusan.
Peristiwa itu
kemudian berkembang menjadi wabah ransomware yang melanda banyak
organisasi global hingga terpaksa mematikan infrastrukur IT mereka untuk
sementara waktu. Tak sedikit pula industri kesehatan mengalami kendala
operasional.
Trend Micro Incorporated, solusi keamanan siber,
mengaku telah menelusuri kemunculan WannaCry sejak pertama kali jenis
Ransomware ini muncul secara liar pertama kali pada April 2017. Tren
Micro mengaku berhasil melindungi pengguna dari ancaman tersebut, juga
beragam ancaman lain menggunakan teknik behavioral analysis dan high
fidelity machine learning.
Berdasarkan keterangan tertulis
dipaparkan, varian WannaCry ransomware menyerang sistem berbasis Windows
yang sudah usang dan meninggalkan serangkaian jejak kerusakan.
"Wilayah
yang terdeteksi paling banyak mengalami wabah serangan Wannacry adalah
kawasan Eropa. Namun, kawasan Timur Tengah, Jepang, dan beberapa negara
di Asia Pasifik juga menunjukkan tingkat infeksi yang cukup tinggi,"
demikian laporan tertulis Tren Micro yang diterima Bisnis,
Senin(15/5/2017).
Sejumlah industri yang dilanda infeksi antara
lain kesehatan, manufaktur, energi, teknologi, makanan dan minuman,
edukasi, media, komunikasi, dan pemerintahan.
Wannacry membidik
sasaran pada 176 jenis file seperti database, multimedia, archive, dan
dokumen-dokumen office, kemudian melakukan enkripsi file-file tersebut.
Mereka mengancam dengan meminta tebusan berupa Bitcoins, berbekal
senjata berupa data-data yang akan dihapus.
WannaCry memanfaatkan
CVE-2017-0144, celah vulnerability di Server Message Block, untuk
menginfeksi sistem. Hal yang menjadikan dampak dari WannaCry ini begitu
cepat menjalar adalah kemampuannya untuk melakukan propagasi dengan
cepat. Perilakunya yang mirip dengan perilaku infeksi worm,
menjadikannya mudah untuk disebar ke penjuru jaringan, menginfeksi
sistem terkoneksi meski tanpa interaksi dengan pengguna. Seorang
pengguna yang terinfeksi, cukup untuk membuka risiko untuk
memporak-porandakan seluruh sistem di jaringan yang sama.
Kemampuan
WannaCry untuk melakukan propagasi dengan cepat mengingatkan kita akan
keluarga ransomware terdahulu, seperti SAMSAM, HDDCryptor, dan several
variants of Cerber—yang semuanya memiliki ciri-ciri perilaku yang mirip
dan mampu menginfeksi sistem maupun server yang terkoneksi ke jaringan
Oleh
karena itu, Trend Micro merilis langkah-langkah perlindungan yang perlu
ditempuh untuk melindungi end-user maupun enterprise dari ancaman
WannaCry/Wcry Ransomware.
Beberapa solusi dan langkah praktis yang
bisa dilakukan untuk mengamankan sistem antara lain: Pertama,
menempatkan patching untuk melindungi diri dari serangan yang
mengeksploitasi celah-celah keamanan. Pasalnya, Ransomware
mengeksploitasi celah vulnerability di SMB server. Kedua, memasang
firewalls dan pendeteksian dengan intrusion prevention systems bisa
membantu mengurangi penyebaran ancaman ini.
Ketiga, WannaCry
dilaporkan juga menggunakan spam sebagai titik serangan. Dengan melihat
tanda bendera merah di email-email spam yang terkontaminasi dengan
sistem exploits cukup membantu. System administrators perlu untuk segera
melakukan penggelaran mekanisme keamanan yang mampu melindungi endpoint
dari malware yang memanfaatkan email.
Keempat, WannaCry
meninggalkan berbagai komponen jahat di sistem untuk menjalankan aksi
mengenkripsi file terinfeksi. Application control berbasis pada
whitelist manjur untuk mencegah aplikasi-aplikasi tak dikenal dari
eksekusi file.
Kelima, WannaCry melakukan enkripsi file yang
tersimpan di sistem lokal maupun di jaringan terbagi. Menerapkan langkah
strategis data categorization bisa membantu dalam melakukan mitigasi
dampak serangan.
Keenam, network segmentation juga bisa mencegah penyebaran ancaman ini lebih jauh lagi secara internal.