![]() |
| Ilustrasi |
TechnoLoeGue — Pemerintah tampaknya mulai serius dalam pengawasan video game di Indonesia. Pasalnya, baru-baru ini dikeluarkan daftar berisi 15 judul video game yang dianggap berbahaya bagi anak .
Ini peringatan bagi orangtua bahwa tidak semua video game layak
dimainkan anak-anak segala usia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) Indonesia pada Rabu, 13 April lalu merilis daftar 15 game
berisi kekerasan dan dianggap berbahaya bagi anak-anak. Karenanya,
orangtua diminta memantau aktivitas nge-game anak-anak mereka.
Game-game yang berbahaya untuk anak-anak itu antara lain adalah World of
WarCraft, Call of Duty, Point Blank, Cross Fire, War Rock,
Counter-Strike, Mortal Kombat, Future Cop, Carmageddon, dan Shellshock.
Menyusul kemudian game berbahaya lainnya dalam daftar tersebut yaitu
Rising Force, Atlantica, Conflict: Vietnam, Bully, dan yang tidak kalah
populer yaitu Grand Theft Auto (GTA).
Sebenarnya, di setiap sampul wadah game-game tersebut sudah tertera
rating atau batas usia bagi pemainnya. Untuk game GTA misalnya, tertulis
rating M yang merupakan singkatan dari Mature atau dewasa/17 tahun.
Artinya game yang menampilkan perkelahian dan pencurian kendaraan
bermotor itu hanya bisa dimainkan oleh mereka yang berusia 17 tahun ke
atas atau sudah dianggap dewasa. Begitu pula halnya game perang Call of
Duty berkode rating M. Sedangkan game mistik World of WarCraft berkode
rating T, kepanjangan untuk Teen yang artinya remaja atau 12 tahun ke
atas.
Meski demikian, Harris mengingatkan anaknya lebih memilih game yang tidak berisi kekerasan. Dia menganalogikan dengan ajakan kepada anak untuk salat. Pada saat-saat tertentu, cukup susah mengingatkan anak-anak untuk salat. “Tetapi tetap saya lakukan terus. Karena itu kewajiban orangtua,” tuturnya.
Harris menjelaskan, kementerian apapun, termasuk Kemendikbud, bakal kesulitan untuk mengontrol peredaran video game. Apalagi memastikan anak-anak bermain game sesuai dengan rating usianya. Menurut dia, satu-satunya benteng bagi anak-anak adalah keluarga.
Sementara itu Direktur Indonesia Heritage Foundation (IHF) Wahyu Farah Dina menyatakan, ada banyak tips untuk menangani anak-anak yang kecanduan bermain video game. Misalnya, orangtua bisa menyusun jadwal kegiatan pengganti main game. “Seperti olahraga dan seni,” ucapnya.
Tips berikutnya yaitu menjauhkan konsol dan software game dari anak-anak secara bertahap. Kemudian meletakkan konsol game di ruang terbuka seperti ruang keluarga atau ruang tamu. Farrah juga mengingatkan orang tua agar tidak mengenalkan game kepada anak-anak di bawah usia delapan tahun, kecuali game edukatif.
![]() |
| Grand Theft Auto termasuk game yang dianggap berbahaya bagi anak-anak. |
Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD-Dikmas)
Kemendikbud Harris Iskandar berharap orangtua mengawasi dan mendampingi
anak-anak saat bermain video game. “Saya akui itu susah. Saya sendiri
punya anak SMA, juga susah untuk mengontrol main game,” katanya dilansir
CumaGamer.com dari Jawa Pos.
Meski demikian, Harris mengingatkan anaknya lebih memilih game yang tidak berisi kekerasan. Dia menganalogikan dengan ajakan kepada anak untuk salat. Pada saat-saat tertentu, cukup susah mengingatkan anak-anak untuk salat. “Tetapi tetap saya lakukan terus. Karena itu kewajiban orangtua,” tuturnya.
Harris menjelaskan, kementerian apapun, termasuk Kemendikbud, bakal kesulitan untuk mengontrol peredaran video game. Apalagi memastikan anak-anak bermain game sesuai dengan rating usianya. Menurut dia, satu-satunya benteng bagi anak-anak adalah keluarga.
Sementara itu Direktur Indonesia Heritage Foundation (IHF) Wahyu Farah Dina menyatakan, ada banyak tips untuk menangani anak-anak yang kecanduan bermain video game. Misalnya, orangtua bisa menyusun jadwal kegiatan pengganti main game. “Seperti olahraga dan seni,” ucapnya.
Tips berikutnya yaitu menjauhkan konsol dan software game dari anak-anak secara bertahap. Kemudian meletakkan konsol game di ruang terbuka seperti ruang keluarga atau ruang tamu. Farrah juga mengingatkan orang tua agar tidak mengenalkan game kepada anak-anak di bawah usia delapan tahun, kecuali game edukatif.


Post a Comment